Minggu, 12 September 2010

Tradisi Idul Fitri: Berlebaran!


Mendengar kata lebaran, apa yang ada dalam pikiran kita? Hmm...tentu saja, mudik! Baju baru! Salam tempel! Pernak-pernik! Kue lebaran! Ketupat! Opor ayam!

Di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri atau yang disebut juga Hari Lebaran memang selalu meriah. Banyak tradisi lebaran yang masih lestari hingga kini, dan banyak di antara tradisi tersebut yang (menurut saya) cenderung berlebih-lebihan. Apakah karena itu Hari Raya Idul Fitri di Indonesia disebut Hari Lebaran?

Orang seringkali memaksakan mudik, beli baju baru untuk keluarga, menyiapkan salam tempel, bikin kue, dan masak masakan enak demi merayakan ”kemenangan”. Setelah sebulan berpuasa, di hari lebaran bisa makan sepuasnya. Si anak yang berpuasa sebulan penuh, dijanjikan hadiah uang plus baju baru. Salam tempel juga disiapkan untuk anak, keponakan, dan sanak saudara yang kalau dihitung-hitung, jumlahnya jauh melampaui sedekah kita selama Ramadan. Bagi saya, ini jadi seperti ”balas dendam”.

Di keluarga kecil saya, penyambutan lebaran tahun ini tak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tak ada kesibukan bikin kue, tak ada baju baru, tak ada perjalanan mudik, tak ada parsel, tak ada ragam pernak-pernik. Ya, sejak kami masih kecil Bapak memang tak pernah membiasakan tradisi lebaran yang berlebih-lebihan. Dan itu berlangsung hingga kini.

Ibu tidak sibuk bikin banyak kue, cuma beli beberapa toples untuk disajikan di ruang tamu. Itu pun biasanya lebih dulu habis sama anak-anaknya, hehe... Seperti hari biasa saja. Ketupat hanya ada beberapa buah. Dan Ibu jarang sekali ikutan masak opor dan rendang seperti orang-orang. Saat lebaran, di rumah saya malah jarang ada masakan daging. Lebih sering sambel goreng kentang dan sayur sop. Bahkan pernah hari Lebaran kami malah makan mi instan, haha! Bukan apa-apa, daging mahal menjelang lebaran. Untuk apa memaksakan. Selain itu, di setiap rumah masakannya pasti sama, lontong/ketupat, opor, semur, rendang, dll yang berat dan bersantan semua. Dan di setiap rumah kita pasti ditawari makan. Apa jadinya kalo di rumah sendiri makannya menu itu juga? Mblenger, jare wong jowo. Mendingan makan sop bening deh.

Saya dan adik pun tak punya baju lebaran. Dari dulu seperti itu. Di saat orang-orang pakai baju baru, saya dan ibu pakai baju kurung atau gamis biasa saja. Berjalan ke masjid masih pakai mukena, seperti saat tarawih. Adik saya pun begitu, pakai kemeja yang lama. Bapak apalagi, lebih simpel. Beli baju baru tak harus saat lebaran. Dan saat lebaran bukan baju yang harus baru. Begitu yang Bapak saya selalu katakan menjelang lebaran, agar anak-anaknya mengerti mengapa mereka tidak dibelikan “baju lebaran” seperti kawan-kawan.

Salam tempel? Huaa...jangan tanya! Nggak punya! Jarang banget. Waktu kami kecil, Bapak nggak pernah membiasakan itu ke anak-anaknya. Sampai kami gede, kami juga baru menyadari, kok sodara-sodara juga nggak pada ngasih kami duit yak? Ternyataaa... Bapak dari dulu juga mewanti-wanti om tante untuk tidak memberikan salam tempel kepada kami. Hahaha parah banget dah. Om tante saya cerita, dulu waktu masih kecil kalo mau dikasih uang saya menolak dengan sombongnya, “Nggak ah, aku juga punya tabungan lebaran!” Amit-amit banget kan? Giliran sekarang, saat saya mulai mata duitan, sodara-sodara malah nggak ada yang ngasih. “Yah, Iken kan biasanya nggak minta pas lebaran!” kata mereka. Hiks!

Puasa kami juga nggak diiming-imingi hadiah. Kalo sampe full, hebat! Itu baru namanya memenangkan Ramadan. Itu aja yang kami tau. Padahal kalo 10 ribu sehari kan lumayan banget ya?

Hmm...apalagi ya? Mudik, nggak juga. Sulit sekali mendapatkan tiket saat mudik lebaran. Nggak tega juga sama Bapak kalau harus memaksakan mudik dengan menggunakan mobil pribadi. Macetnya, capeknya, jauhnya. Biasanya kami pulang kampung justru sebelum Ramadan, sekalian nyekar ke makam. Bareng-bareng orang kampung melaksanakan tradisi nyadran. Atau malah seminggu setelah lebaran, kalau di Jawa Tengah disebut kupatan. Malah lebih meriah acaranya kalo di kampungku. Saat Idul Fitri, ya merayakan bersama para tetangga saja. Salam-salaman di lapangan, keliling kampung bersilaturahmi.

Memang, masih banyak tradisi lebaran yang bernilai positif. Silaturahmi, bermaaf-maafan, ziarah makam, saling memberi, dan sebagainya. Indah sekali jika tradisi yang demikian lebih dimaknai. Makna lebaran bukan sekadar baju baru, salam tempel, mudik, dan makanan berlimpah. Seringkali perilaku konsumtif kita menjelang lebaran justru dimanfaatkan oleh orang-orang licik pengeruk keuntungan. Lihatlah ramainya mall dengan berbagai tipu daya diskonnya. Di pasar, daging-daging semakin langka, semakin mahal. Atau digelonggong. Harga-harga sayuran dan bumbu dapur meroket dipermainkan tengkulak. Belum lagi maraknya kasus penipuan arisan lebaran. Alih-alih mendapatkan lebih banyak uang, THR malah dibawa kabur orang.

Apalah artinya berlebih-lebihan saat lebaran, jika kita sendiri tak mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya, menang melawan hawa nafsu. Dan untuk apa memaksakan diri melaksanakan berbagai tradisi lebaran, jika nilai yang hakiki justru terletak pada apa yang berhasil kita kumpulkan selama Ramadan. Lebaran bukan berlebih-lebihan, tapi bagaimana kita bersyukur karena telah memenangkan Ramadan.


“Hari Raya Idul Fitri
Bukan untuk berpesta-pesta
Yang penting maafnya, lahir batinnya...”

Selamat Hari Raya Idul Fitri, taqobbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum, minal a’idin wal faizin :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar