Jumat, 02 Februari 2018

Dua Tahun Menata Hati

Tidak banyak yang tahu bahwa dua tahun terakhir aku mengalami pergulatan batin yang luar biasa. Aku menepi dari keramaian, semata-mata karena aku merasa kehilangan pijakan. Semua bermula semenjak aku memutuskan resign dari pekerjaanku sebagai wartawan Majalah Ummi dan banting setir jadi ibu rumah tangga.

Pada waktu itu alasanku resign adalah karena: capek. Aku sering sakit. Nggak ada visi dan alasan yang cukup mapan tentang mengapa aku harus di rumah. Tadinya kupikir segalanya akan jadi lebih mudah. Ternyata, pergantian rutinitas dan peran ini bikin aku shock. Mungkin semacam post power syndrome ya. Hehe. Dari yang tadinya bebassss banget jadi jurnalis wara-wiri ke sana ke mari, perempuan mandiri ke mana-mana sendiri, punya penghasilan sendiri dengan lifestyle yg lumayan konsumtif, pokoknya hidup semau-mau. Eh, tiba-tiba harus di rumahhhh aja sama bocah. Iya sih aku punya ide besar bahwa aku pengen di rumah untuk full time mendidik anak. Tapi itu ide besarnya. Realita hariannya mah. Netein. Bikin bubur. Nyuapin. Gendong. Nyebokin. Ngejar2. Nemenin eek di kamar mandi. Hampir gak ada waktu pribadi karena bahkan ke kamar mandi aja ditangisin. Solat digelayutin ampe kecekek mukena. Ya Allah. Pun gak ada pemasukan pribadi karena 100% uang dari suami. I feel so helpless... powerless... useless... Tapi aku nggak ada waktu untuk memikirkan diri sendiri. Energi, pikiran, emosi sepenuhnya tercurah untuk Ali. Aku nggak pernah sempat nangis untuk diri sendiri dan meluapkan emosi.

Juga karena latar belakang seorang jurnalis, aku "kebiasaan" mencari info detail tentang parenting dan tumbuh kembang anak. Aku melahap semua "konsep ideal" tapi seketika itu pula dibenturkan dengan realita sehari-hari yang mematahkan teori. Medsos seperti jendela yg mudah sekali membuatku melongok ke luar dan melihat rumput2 tetangga lebih hijau. Perasaan bingung, merasa bersalah kepada anak dan suami, merasa bodoh dan gagal menjadi ibu, menguburku makin dalam setiap hari. Aku kehilangan semangat dan produktivitas. Tadinya masih rajin nulis jadi mampet. Aku kehilangan diri sendiri. Tapi karena aku nggak ke psikolog jd gak tahu itu depresi/bukan. Aku juga semakin tertekan kalau ada orang yang bilang, masalahku ini hanya karena aku kurang bersyukur, kurang beriman, kurang ibadah. Semakin ngerasa berlumur dosa dan tidak berarti. Depression eats you from inside.

Suamiku berusaha memahami struggle-ku dan aku rasa dia adalah salah satu orang paling sabar yang pernah aku kenal. Kendati seringkali dia nggak ngerti gejolak emosiku yang seperti roller coaster, pada akhirnya ia cuma memelukku dalam-dalam dan membiarkanku menangis lama. Aku sering bilang padanya, Bang seandainya aku cuma lulusan SMP dari kampung trus langsung nikah mungkin aku gak se-stress ini. Seandainya aku gak pernah kuliah. Seandainya I had no idea about feminism. Seandainya aku nggak pernah merasakan berkarir dan punya uang sendiri. Mungkin aku nggak akan segini frustasinya. Tapi aku terjun bebas dari posisiku dahulu. Sekarang, aku minta uang aja sungkan. Bahkan untuk bilang "Aku capek" atau "Aku ngantuk" ke suami tuh sungkan, malu banget. Kayaknya aku ga berhak bilang begitu karna udah pasti suamiku yang lebih capek berangkat kerja setiap hari, sementara aku di rumah aja, gimana bisa capek?

Kenyataannya, aku merasa compang-camping. Tak kasat mata, tentu saja. Kalau berat badan naik atau turun, kelihatan, orang mudah berkomentar. Tapi kalau batin yang tengah pincang, padahal berat badan nambah terus, siapa yang nyangka? Pun kalian kalau ketemu aku mungkin gak akan nyangka aku tertatih-tatih menata batin.

Suamiku sangat berempati. Setelah menyampaikan semua uneg2 itu, dia agak bingung dan kaget kenapa aku bisa berpikir begitu. Dia bilang, dia sangat menghargai proses "terjun bebas" yang aku rela lakukan. Itu pengorbananku, katanya. Nggak banyak yang bisa atau bahkan mau melakukannya. Duh langsung rasa pingin nangis. Dia bukan tipe orang yang suka ngungkapin perasaan tapi denger dia ngomong gitu aku terharu. Karena itu bener banget.

Semua orang di sekitarku baik, suamiku sangat pengertian, anakku pun pinter dan sehat, namun masalahnya hanya ada di dalam diriku sendiri.

Karena begitu banyaknya emosi negatif yang terpendam di dalam dada, dan aku pun kerap mimpi buruk, aku sempat ingin rukyah. Jangan-jangan ada jin nemplok yang bikin gw begini. Tapi setelah konsultasi dulu ama temen yang ngerti, dia bilang "Lu mah stres doang itu. Kaga usah bawa2 jin!" Hahaha. Tapi tetap saja, hati yang gundah adalah sasaran empuk syaitan. Aku sadar penuh, aku harus banyak menenangkan diri dengan ngaji dan dzikir, tazkiyatunnafs.

Aku sampe skrg doaku msh sama.

"Allahummaj'alnii minasshobirin... allahummaj'alni minassyaakirin... allahummaj'alni minal mukhlashin..." ya Allah jadikan aku org yg sabar... yg bersyukur... yg ikhlas... diulang 3x dan diucapkan tiap abis solat, bangun tidur, atau kapanpun aku merasa tidak cukup sabar/capek hati.

Atau zikir asmaul husna. Aku menyebut nama-nama Allah seperti Ya Lathif... untuk meminta kelembutan hati... Ya Shobur... untuk meminta kesabaran, dst. Itu zikir paling mudah dan menenangkan.

Lalu, aku menghitung nikmat. Setiap malam, sebelum tidur, aku selalu mengajak Ali menghitung dan menyebutkan nikmat Allah kepada kami. Kami sebutkan (hampir) semuanya. Karena nikmat Allah yang sebenarnya mah, gak kehitung, hehe... "Alhamdulillah ya Allah, hari ini Ali senang Ali sehat, Mama sehat... Ayah pulang cepat jd Ali bisa main... Alhamdulillah ya Allah, Ali makannya banyak hari ini, terima kasih ya Allah, jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur..." dan seterusnya yang bisa panjangggg sekali sampai Ali ngantuk, hehehe...

Itu menjadi pengantar tidur Ali namun pengingat yang sangat efektif buatku, bahwa aku dikaruniai banyak nikmat dan sepatutnya aku bersyukur.

Aku menarik diri dari segala bentuk medsos, I changed my number, bahkan kemarin-kemarin di hp ini cuma ada grup keluarga. Karena seringkali kita nyari sumber stres kemana-mana, padahal ia ada di genggaman kita. Ponsel alias jendela buat ngeliat rumput orang2 yang lebih hijau. Ponsel, sosmed, adalah pangkal dari segala iri, hasad, membanding2kan, tidak bersyukur, riya', dsb. So I decided to stay away from my phone.

Aku jadi punya banyak waktu juga untuk baca buku.

Salah satu yang kubaca, buku Marie Kondo. Darinya aku terinspirasi untuk menata ulang isi rumah mengeluarkan banyak sekali barang. Abang pun sepakat mengeluarkan budget untuk renovasi dan mengganti suasana jadi serba minimalis. Sekarang rumahku minim perabot, bahkan piring pun cuma ada 8. Dulu mah tiap liat dapur bawaannya pengen beberes. Sekarang engga. Lha wong ga ada barang apa yang diberesin? Hehe. Cucian piring juga gak numpuk, karena misalnya kedua panci kotor dan aku perlu pakai, ya harus cuci dulu. Aku betul-betul nggak mau dipusingkan dengan urusan beres-beres setiap hari karena aku ingin fokus membahagiakan anak, suami, dan diri sendiri. Ternyata, itu berefek besar.

Ada satu buku lagi yang banyak menginspirasi, mencerahkan, dan... memeluk... ya, sebagai ibu yang tengah krisis percaya diri, aku merasa dipeluk oleh buku yang indah ini. Cinta yang Berpikir karya Ellen Kristi. Bacalah. Recommended banget. Buku ini betul-betul bisa membuatku memaknai lagi setiap momen bersama Ali. Membuatku lebih santai, lebih banyak bersyukur. Mencerahkan visiku akan pendidikan macam apa yang kuharapkan untuk Ali. Membesarkan hatiku bahwa saat ini aku sedang membesarkan seorang calon pemimpin masa depan. Pendidikan karakter adalah inti dari manusia sejati. Dan cuma ibu yang bisa membimbingnya 24/7.

Wafatnya Mbah pada Maret tahun lalu juga menjadi turning point buatku. Seperti yg ceritakan di sini, beliau ambruk ketika lagi di rumah sama aku dan Ali. Anak-anak dan cucu-cucu lainnya sibuk dgn rutinitas masing-masing, dan aku yg nggak punya kerjaan apa-apa pada akhirnya sangat bersyukur bisa menemani hari-hari terakhir beliau mendengarkan ceritanya, menemani tidur siang, mengaji dan berzikir di sampingnya sampai beliau wafat. Di saat yg lain sibuk berutinitas, aku yang punya waktu paling luang. Setelah beliau tiada, aku sadar bahwa waktu adalah hal paling berharga untuk dilalui bersama orang-orang terkasih. Dan semestinya aku bersyukur punya banyak waktu bukan cuma untuk membersamai Ali, tapi juga Mbah, Bapak-Ibu, dan tentu saja, suami.

Butuh waktu lama buatku untuk merenung dan memahami apa yg sesungguhnya sedang terjadi pada diri. Dan pergulatan itu pun belum sepenuhnya usai. Emosiku masih suka meledak-ledak terutama di masa PMS. Tapi seenggaknya aku mulai memahami polanya dan terus menerus berusaha mengendalikan diri lebih baik. All you need is love kata The Beatles. Aku pun, butuh banyak ciuman dan pelukan. Aku memintanya setiap hari dari suamiku dan Ali.

Ohya, satu lagi. Aku punya tetangga baru, senasib, ibu muda, punya anak 2 tahun, bocah cowok yang ga bisa diem, dan kami sehari-hari di rumah aja. Kami suka jalan2 ke taman, perpustakaan, sepedaan, berenang. Wisata murah meriah aja sekalian ajak anak eksplorasi ngabisin energi, hihi. Bawa 2 toddler super aktif gitu, ribeddd, pasti. Tapi buatku, senang banget punya temen refreshing dan temen cerita. Cerita semalem abis begadang. Cerita anak lg susah makan. Cerita anak lagi hobi nabok. Jd ngerasa gak sendirian. Kami saling berbagi makanan, pinjem-pinjeman buku dan mainan, belajar bikin kue bareng. Kadang solat atau mandi gantian saling titip, hahaha... Kayaknya stres ku jauh berkurang sejak ada dia.

Kurasa setiap ibu perlu memiliki teman senasib untuk berbagi cerita dan temen refreshing. Sesama ibu harus saling merangkul membahagiakan. Karena jika seorang ibu bahagia, tentramlah keluarganya. Sebaliknya, jika seorang ibu tidak bahagia, seisi rumah pun akan terasa penat dan muram.

Berbahagialah, ibu. Bahagiakan dirimu. Banyak2 bersyukur dan nikmati setiap momen yang kau lewati bersama anak dan suami. Mommies are awesome!

1 komentar:

  1. I feel you dear. Niscaya akan ada hari-hari indah dimana kita bisa menemukan sesuatu dalam diri yang membuat kita makin berharga, karena sudah memutuskan untuk menjadi ibu didalam rumah. Bersinar selalu Ken. Allah menyertai kita semua :*

    BalasHapus