Minggu, 03 Oktober 2010

Suatu Pagi, dari Jendela Kamarku




Hari masih gelap ketika kokok ayam jantan membangunkanku dari tidur lelap. Pukul lima pagi. Pagi-pagi seperti ini Jatinangor masih dingin sekali, apalagi semalam turun hujan. Biasanya aku masih meringkuk di balik selimutku, dan baru terbangun pukul 7 nanti, saat hari sudah terang. Tapi kali ini aku tidak ingin tidur lagi. Aku ingin menikmati pagi yang dingin dan sepi ini dari jendela kamarku. Jendela yang terletak tepat di samping tempat tidur. Biasanya menjelang tidur malam aku akan mematikan lampu kamar sehingga kamar jadi gelap. Lalu aku akan membuka tirai jendela lebar-lebar, sehingga kerlip lampu-lampu kota akan tampak jelas, dan menemani aku pergi tidur. Dan pada pagi hari, mentari akan membangunkanku dengan sapaan sinar hangatnya.

Kamarku tempat aku tinggal saat ini adalah sebuah ruangan berukuran 4 x 5 meter, yang terletak di lantai dua dari asrama Pondok Kaca, Desa Cikeruh, Jatinangor. Aku baru tinggal di sini selama satu bulan.

Sambil masih duduk berselimut, aku buka tirai jendelaku. Langit masih berwarna biru gelap, dengan semburat kekuningan di sebelah timur, pertanda matahari akan segera terbit dari balik Gunung Geulis. Si cantik itu terlihat berupa siluet saja, dengan lekuk-lekuk bukitnya yang landai. Mirip lekuk tubuh indah seorang gadis remaja. Ia masih berselimut kabut tipis, padahal matahari sudah bersiap membangunkannya. Menggantikan bulan yang sudah semalam suntuk menemani. Ah, itu dia Si Bulan Sabit! Ia masih di sana, tepat di atas puncak Geulis. Lengkung indahnya memancarkan sinar terang yang sebentar lagi akan pudar.

Di kaki Gunung Geulis, tampak kota Sumedang dengan cahaya lampu yang berkelipan bagai bintang. Warna-warni cahayanya, indah sekali. Merah, putih, kuning. Membentang dari timur sampai ke ujung tenggara. Di arah selatan, tepat arah aku menghadap, aku melihat barisan kos-kosan padat yang tumbuh berdampingan dengan perumahan warga Jatinangor. Pendatang ke kota kecamatan ini tiap tahunnya makin bertambah, perlahan menggeser lahan penduduk pribumi. Aku melihat pemandangan yang seperti kue lapis di sini. Hamparan rumah dengan atapnya yang berwarna oranye, disusul dengan lapisan hijau dari pohon-pohon setinggi +/- 5 meter yang (syukurlah) masih tumbuh cukup lebat di Jatinangor. Lalu tampak siluet pegunungan Priangan yang berlapis-lapis. Warnanya biru gelap, dan semakin jauh warnanya semakin pucat. Indah sekali pemandangan dari sini.

Langit timur sekarang sudah berwarna kekuningan, pertanda matahari sebentar lagi muncul. Cahaya lampu yang berkelipan di bawah kaki bukit Geulis dan di sebelah tenggara sudah berkurang. Mungkin orang-orang sudah terbangun dan mematikan lampu rumahnya. Aku memperhatikan bagaimana cahaya bintang itu redup satu per satu.

Sekarang aku mengedarkan pandanganku ke arah barat. Well, pemandangannya tidak indah lagi di sebelah sini. Sebuah lahan yang dulunya ditumbuhi ilalang hijau sepinggang, kini sudah menjadi lahan proyek pembangunan apartemen, yang diklaim sebagai apartemen pertama di Jatinangor. Dua crane setinggi 20 meter menjulang dan menyajikan pemandangan yang kontras dengan kedamaian di sebelah timur. Di bawahnya, tanah hasil kerukan tampak amburadul. Proyek pembangunan apartemen ini baru sampai di tahap pemasangan pondasi tampaknya. Setiap hari kedamaian kosanku ini terganggu dengan bunyi debuman keras yang memekakkan telinga, plus menggetarkan kaca jendela. Para pekerja itu akan mulai berdatangan pukul 6.30; sebentar lagi. Bunyi deru mesin dan dentuman keras pun akan segera mengalahkan bunyi kicauan burung dan ayam jantan yang masih kudengar bersahutan sekarang. Debu-debu berterbangan akan menggantikan kedamaian kabut pagi.

Pembangunan apartemen ini sebetulnya penuh kontroversi. Banyak warga asli Jatinangor yang tidak setuju. Aku pernah berbincang-bincang dengan Kang Deden, ketua Karang Taruna Jatinangor. Ia bersama kawan-kawannya pemuda Jatinangor sudah memperjuangkan berbagai cara agar apartemen ini tidak jadi dibangun. Kang Deden mengatakan, bila apartemen ini jadi dibangun, warga Jatinangor akan jadi makin terasing dan terpinggirkan di rumah mereka sendiri. Selain itu, masalah lingkungan juga jadi pertimbangan. Jatinangor dengan jumlah pendatang yang terus bertambah tiap tahun, jumlah air tanahnya pun sudah berkurang. Bagaimana bila ada gedung setinggi 20 lantai? Tentu kebutuhan air tanah akan meningkat dan daerah resapan air juga akan semakin berkurang.

Lokasi apartemen itu nantinya akan bersebelahan dengan pusat perbelanjaan modern di Jatinangor, Jatinangor Town Square (yang pembangunannya juga sempat ditentang warga lokal Jatinangor pada awal 2007). Kang Deden mengatakan, lahan yang akan dijadikan apartemen itu sebenarnya merupakan daerah resapan air yang tersisa di Jatinangor. Bila di situ didirikan bangunan, desa-desa yang berada di dataran lebih rendah akan terkena dampak: banjir. Belum juga rampung pembangunan apartemen itu, kekhawatiran Kang Deden sudah terbukti. Beberapa minggu yang lalu banjir besar melanda wilayah Rancaekek, sebuah wilayah perbatasan Sumedang-Bandung Timur yang notabene lebih rendah daripada Jatinangor. Banjir itu bahkan menimbulkan korban jiwa.

Banyak lagi permasalahan sosial dan lingkungan yang bisa ditimbulkan dari pembangunan apartemen itu. Bahayanya lebih besar daripada manfaatnya, dan keuntungannya pun hanya akan mengalir ke kantong para penguasa. Rakyat kecil hanya akan semakin terpinggirkan, sambil mengkhawatirkan limbah dan bencana yang mungkin timbul sebagai akibat pembangunan yang semena-mena ini. Meskipun Kang Deden dan kawan-kawannya sudah menempuh berbagai cara untuk mencegah pembangunan apartemen itu, namun apalah daya mereka melawan kaum kapitalis dan penguasa mata duitan. Toh apartemen ini jadi dibangun juga.

Hari sudah terang sekarang. Para pekerja tampak mulai berdatangan, dan.... “brrrrrrrrmm.. brrrrrrrrm...” Oh no. They started again. Kedamaian pagi-ku kembali terusik. Ah, sudahlah. Daripada kesal, lebih baik aku mandi saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar