Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2010

Si Laba-Laba Kuning dan Sarangnya

Ada seekor laba-laba kuning besar bersarang di dahan pohon mangga depan kamarku. Ia mulai memintal benang dan membuat sarangnya sejak seminggu yang lalu. Awalnya, ibu yang suka bersih-bersih di kosanku memutus benang pintalan si laba-laba, sehingga sarangnya yang setengah jadi itu hancur. Aku kasihan melihatnya. Padahal ia sudah buat dari hari sebelumnya. Rupanya si laba-laba tidak putus asa. Keesokan hari, ia memintal lagi benangnya yang berwarna kuning keemasan. Matching sekali dengan warna tubuhnya. Pagi-pagi sekali ia sudah mulai memintal. “Sebelum si ibu datang,” begitu mungkin ia pikir. Ia melompat dari satu dahan dan daun, mengaitkan benang keemasan yang tipis namun kuat itu, sampai membentuk segi delapan yang tidak teratur. Lalu ia mengaitkan tiap sudutnya hingga berbentuk mirip jaring. Pelan-pelan ia menjalin benang-benang tipis itu. Sepertinya ia mau membuat rumah yang luas. Tak lama kemudian, si ibu yang bersih-bersih di kosanku itu datang. Ia mau memutus lagi benang rumah s

Serba-Serbi Kontroversi RUU PRT

oleh: Ken Andari dan Hani Noor Ilahi Pembantu atau Pekerja? “Bibi, tolong siapkan sarapannya!” “Bi, kaos kakiku di mana?” “Bi, adik sudah dimandikan belum?” Begitulah pekerjaan Bi Imah setiap hari, mengurus semua pekerjaan rumah tangga. Apalagi di pagi hari, saat semua orang rumah hendak pergi beraktivitas. Mulai dari menyiapkan sarapan bagi seluruh keluarga, sampai dengan mencarikan kaos kaki. Tapi itu belum apa-apa. Ketika semua orang sudah pergi, pekerjaan yang sesungguhnya dimulai. Menyapu, mengepel, merapikan seisi rumah. Belanja ke pasar, memasak, mencuci piring. Mencuci baju, menyetrika. Pekerjaan-pekerjaan yang seringkali dianggap remeh orang. Padahal sebenarnya tidak! Apalagi jika semua itu harus dilakukan setiap hari. Butuh tenaga, butuh keterampilan, dan butuh perlindungan. Pembantu rumah tangga. Demikian orang biasa menyebut pekerjaan Bi Imah ini. Benarkah hanya sekadar membantu? Tidak juga. Nyatanya sebagian besar pekerjaan domestik diserahkan kepada mereka. Pemerintah h

Nelayan Oh Nelayan

Stok BBM subsidi menipis, diperkirakan tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir tahun 2010. Akibatnya, pasokan premium dan solar di SPBU banyak dikurangi. Orang-orang antri panjang. Tapi pagi ini, ada berita yang ironis kulihat di televisi. Mengiris hatiku. Di Ende, Nusa Tenggara Timur, para nelayan membawa perahu mereka untuk antri di SPBU. Mereka bilang, sudah seminggu tak melaut karena tidak dapat pasokan BBM. Jadi mereka ikut antri saja di SPBU, di antara antrian mobil dan motor. Orang marah-marah, mereka bilang nelayan tak seharusnya antri di sana. Sempat ricuh. Ah, aku sedih. Yang punya motor dan mobil itu kok ya jahat banget sama nelayan, marahin mereka yang ikut antri di SPBU dengan perahu mereka. Padahal mereka amat butuh solar untuk bahan bakar perahu. Kebanyakan nelayan miskin di Indonesia, kalau tak melaut tak makan. Pemerintah juga bagaimana, kok bisa sampai nelayan itu tidak dapat solar selama seminggu, sementara di “darat”, premium dan solar masih dipasok,

Benda-benda Kesayanganku...

Gambar
Semua orang pasti punya benda kesayangan, entah itu bantal, boneka, dompet, atau bahkan kaos kaki. Benda kesayangan itu menjadi sangat berarti, kebanyakan bukan karena mahal harganya atau jauh belinya, melainkan karena benda itu memiliki kenangan atau kenyamanan tersendiri bagi si empunya. Biasanya, seseorang yang mempunyai benda kesayangan nggak akan rela kehilangan benda itu, betapapun ada yang beli, atau ada yang mau menukar. Mungkin di antara kawan-kawan ada yang punya bantal yang udah buluk, bau iler, tapi nggak bisa tidur kalo nggak pake bantal itu. Atau mungkin ada yang punya dompet berumur puluhan tahun, yang udah nempel “PW” banget di kantong celana. Aku juga punya beberapa benda kesayangan, yang ingin sekali aku ceritakan di sini. Kadang dengan melihat benda-benda kesayangan seseorang, kita juga bisa sedikit punya gambaran tentang sisi unik orang tersebut. Jadi, benda-benda yang aku sayangi itu di antaranya adalah: 1. Panda Begitu aku memanggil boneka beruang kuning yang lucu

"Not Responding"

Lima hari terakhir ini, padat sekali. Hectic. Waktuku padat dengan agenda, otakku padat dengan pikiran. Padahal perutku kosong terus, karena memang beberapa hari terakhir ini aku puasa Dzulhijjah. Hari ini aku puasa Arofah. Kau juga kan? Rasanya beberapa hari terakhir ini aku dikendalikan oleh tugas-tugasku. Mereka mencekik aku, mendesakku. Argh! Aku ingin bercerita! Tapi sudah dua hari ini, orang yang biasanya kujadikan tempat bercerita- seperti enggan mendengarkan aku. Ah, ya sudah lah. Aku menulis saja. Bercerita kepada siapa saja. Dengan menulis, aku merasa memiliki waktu dengan diriku sendiri. Aku menemukan otonomi diriku kembali. Izinkan aku menulis kawan, dan biarkan tulisan ini bercerita tentang hariku yang melelahkan. Mudah-mudahan kalau sudah kukeluarkan lewat tulisan, segala kepenatan yang memenuhi otakku bisa sedikit hilang. Oke, aku cerita, ya. Kamis, 11 November 2010. Saat perkuliahan pelaporan mendalam, dosenku Pak Sahala Tua Saragih berbicara panjang lebar tentang sumbe

"Ruang Kerja"

Gambar
Beberapa waktu yang lalu aku sudah cerita tentang salah satu sudut favoritku di kamar. Masih ingat tulisan “Suatu Pagi dari Jendela Kamarku”? Ya, salah satu sudut favoritku di kamar ini adalah jendela di samping tempat tidur itu. Dari sana aku bisa lihat banyak hal. Seringkali dapat inspirasi. Nah, kali ini aku ingin tunjukkan kepada kalian satu lagi sudut favoritku di kamar kosku yang nyaman. Kalau di depan jendela aku lebih sering terdiam sambil merenung, di sudut yang satu ini aku lebih banyak kerja. Ngetik ngetik ngetik, mikir mikir mikir. Jeng jeng... inilah sudut favoritku itu: Ini mirip ruang kerja. Memang di sinilah tempatku bekerja (baca: ngetik, begadang, ngerjain tugas). Ya, sebagai mahasiswa jurusan jurnalistik semester 7, aku banyak menghabiskan waktu di sini. Dibanding tempat tidur, rasanya aku lebih akrab di sini, hehehe... Ruang kerjaku ini terletak di samping pintu. Kalau pintu kamarku terbuka, kau hampir pasti bisa melihatku di sana. Lihat, ada sebuah meja yang dihias

Perempuan dan Laki-laki, Rival atau Kawan?

Rabu (17/12) lalu saya sempat mewawancarai Ibu Yusi Fitri Mardiah, caleg DPR-RI dari Partai Keadilan Sejahtera mengenai keterwakilan perempuan dalam politik. Saya sudah mempersiapkan banyak pertanyaan, termasuk soal kuota 30%. Dalam pikiran saya, politisi perempuan itu pastilah seorang feminis yang bakal ngotot soal keterwakilan perempuan itu. Jadi memang, pertanyaan-pertanyaan saya persiapkan untuk menghadapi orang feminis. Tapi ternyata saya salah besar. Bu Yusi yang ramah itu bukan perempuan yang mendukung kuota 30% itu. Menurutnya hal itu cenderung dipaksakan, mengingat kultur perempuan Indonesia yang umumnya masih tradisional dan belum berminat untuk terjun ke dunia politisi praktis. Menurutnya, kehadiran 30% minimal perempuan di parlemen itu sebenarnya tidak terlalu penting. Dan tidak akan ada masalah kalaupun laki-laki lebih banyak, kalau memang mereka berkualitas. Jepang, Malaysia, itu merupakan negara yang tingkat keterwakilan perempuan di parlemennya rendah, dibandingkan deng

Bahasa "Alay" di Kalangan Remaja

Akhir-akhir ini di kalangan anak muda muncul sebuah cara baru dalam berbahasa tulisan, yang lebih dikenal dengan istilah “bahasa alay”. Bahasa alay muncul dan berkembang seiring dengan pesatnya penggunaan teknologi komunikasi dan situs-situs jejaring sosial. Bahasa alay ini mengingatkan kita pada saat maraknya bahasa gaul. Bahasa gaul adalah dialek bahasa Indonesia nonformal yang digunakan oleh komunitas tertentu atau di daerah tertentu untuk pergaulan (KBBI, 2008: 116). Bahasa gaul identik dengan bahasa percakapan (lisan). Kemudian kini hadir istilah “bahasa alay”. Kata “alay” bisa diartikan sebagai anak layangan, anak lebay (berlebihan), dan sebagainya. Istilah ini hadir setelah di facebook semakin marak penggunaan bahasa tulis yang tak sesuai kaidah bahasa Indonesia oleh remaja. Hingga kini belum ada definisi yang pasti tentang istilah ini, namun bahasa ini kerap dipakai untuk menunjuk bahasa tulis. Dalam bahasa alay bukan bunyi yang dipentingkan tapi variasi tulisan. Kemunculan bah