Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2020

Menyapih Aidan

Menyusui menjadi momen membangun ikatan antara ibu dan anak. Tidak semudah kelihatannya, menyusui juga punya banyak tantangan. Puting lecet, payudara bengkak, kalau soal bentuk udah jangan ditanya. Semakin besar si anak bisa menyusu dengan berbagai gaya. Ngeri-ngeri sedap.      Aku menyusui Ali sampai usianya 30 bulan. Ya, molor banget memang. Proses nyapihnya maju mundur. Bahkan dia sudah lebih dulu lulus toilet training dan bisa naik sepeda roda dua sebelum berhasil disapih. Semata karena aku nggak tega, dan semakin besar, semakin susah dibilangin, semakin berat digendong. Sehingga seringnya aku mengambil jalan mudah: susui lagi. Gitu aja terus, walaupun sounding -nya udah dari lama, tapi nggak berhasil-berhasil karena aku nggak tega. Atau capek.      Setelah akhirnya bisa disapih, aku langsung ngetawain diri sendiri dan bilang, “Kenapa gak dari dulu aja?” Haha. Ya karena ternyata enak banget udah disapih tuh. Bisa tidur sendiri tanpa dikelonin. Kita bangun dia gak ikut bangun,

Problema Tahun Kelima

Romantisisme menggambarkan pernikahan sebagai akhir dari kisah indah “…and they lived happily ever after…” seolah pergulatan dan segala nestapa berhenti di sana. Padahal, realitanya pernikahan adalah awal dari sebuah perjalanan baru yang tentu saja akan penuh liku. “Hell is other people”  - Jean Paul Sartre - Teringat masa-masa paling indah saat menjadi anak kosan, hidup di dalam satu kamar punya sendirian, mau naro baju di mana, bangun jam berapa, di kamar mandi berapa lama, seharian nonton pilem aja ga ngapa-ngapain juga terserah. Bebash.  Setelah menikah, ada orang lain yang masuk dalam kehidupanmu. Mengubah prioritasmu. Membuatmu tidak punya waktu untuk dirimu sendiri. Suami, anak satu, anak dua. Mereka semua hadir dan memaksamu bertumbuh, mau tidak mau, siap tidak siap. Is it a good thing? YES ! But it is never easy.  Alih-alih romantisisme “…happily ever after… just the two of us…” yang lebih relevan adalah kata-katanya Patkai: “Begitulah Cinta… deritanya tiada akhir…”  *** Aku