Postingan

Memorable Journey to Surya Kencana

Gambar
“Surya Kencana is a beautiful place. It’s a valley surrounded by green hills and blue sky. Yellowish grassland, and flower beds of edelweiss! Can you imagine that? But that’s just a dayview. In the night, for me, Surya Kencana’s just getting more and more beautiful. You can see dozens of stars twinkling above you. Stars you’ve might never seen before. They were so close; it seems like I can pick it one for you. One day, you must go there and feel the wind of eternity!” That’s how Rezza always told me about Surya Kencana, one of his most favourite places. He said he always wanted to go back. I was so curious. And I don’t have to wait any longer, because tomorrow, he will bring me there! Surya Kencana is an edelweiss valley, located in the east-side of Mount Gede summit. Most of Gede climber went from Gunung Putri Post, loved to stop here just to take rest and enjoy its beauty, before they continue to summit. My journey started on Friday, September 17th 2010. A week ago. I'm no...

Tradisi Idul Fitri: Berlebaran!

Gambar
Mendengar kata lebaran, apa yang ada dalam pikiran kita? Hmm...tentu saja, mudik! Baju baru! Salam tempel! Pernak-pernik! Kue lebaran! Ketupat! Opor ayam! Di Indonesia, Hari Raya Idul Fitri atau yang disebut juga Hari Lebaran memang selalu meriah. Banyak tradisi lebaran yang masih lestari hingga kini, dan banyak di antara tradisi tersebut yang (menurut saya) cenderung berlebih-lebihan. Apakah karena itu Hari Raya Idul Fitri di Indonesia disebut Hari Lebaran? Orang seringkali memaksakan mudik, beli baju baru untuk keluarga, menyiapkan salam tempel, bikin kue, dan masak masakan enak demi merayakan ”kemenangan”. Setelah sebulan berpuasa, di hari lebaran bisa makan sepuasnya. Si anak yang berpuasa sebulan penuh, dijanjikan hadiah uang plus baju baru. Salam tempel juga disiapkan untuk anak, keponakan, dan sanak saudara yang kalau dihitung-hitung, jumlahnya jauh melampaui sedekah kita selama Ramadan. Bagi saya, ini jadi seperti ”balas dendam”. Di keluarga kecil saya, penyambutan lebaran tah...

Miranda Risang Ayu – dosen Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran dan Ketua UPT HKI Unpad: “Jangan Sampai Toleran Terhadap Plagiarisme”

Lahir dari keluarga seniman membuat darah seni mengalir deras di tubuhnya. Tulisan dan sajak-sajaknya yang jernih dan menyentuh membuat banyak orang terhanyut. Siapa sangka, pemilik darah seni itu kini menjadi dosen fakultas hukum. Siapa sangka, perangkai kata-kata indah nan melankoli itu ternyata adalah seorang yang amat ceria dalam kesehariannya. Ialah Miranda Risang Ayu, dosen Hak Kekayaan Intelektual di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran, sekaligus seorang penulis karya sastra. Apa sebenarnya yang membuatnya tertarik di bidang perlindungan hak kekayaan intelektual? “Saya berasal dari keluarga seniman. Kakek, kedua orang tua saya seniman, perajin perak. Adik-adik saya pun seniman. Karya seni itu ‘kan kekayaan intelektual yang harus dilindungi. Jadi sejak dulu saya memang menaruh perhatian khusus terhadap perlindungan kekayaan intelektual,” tutur wanita kelahiran Bandung, 10 Agustus 1968 ini. Miranda yang kini menjabat sebagai Ketua Unit Pelaksana Teknis Hak Kekayaan Intelektual ...

Desa Tanjungsari Barat, Subang: Kesan Pertama

Gambar
Matahari pagi masih bersinar malu-malu saat kami keluar kamar dan memulai hari dengan berdoa, semoga perjalanan ke Subang berjalan lancar. Ya, hari itu kami, Nisa Hurin, Chesara Novatiano, Novitasari dan saya sendiri sebagai perwakilan dari peserta KKNM Unpad Desa Tanjungsari Barat, Kecamatan Cikaum, Subang, memang berencana survei lokasi. Empat cewek tangguh ini berangkat dari Jatinangor menuju Subang bermodalkan semangat, nekat, dan sedikit ingatan lokasi dari Google Map. Meski sempat diwarnai insiden pecah ban, perjalanan kami tetap dilanjutkan! Pukul 10 pagi, mobil kami meluncur meninggalkan Jatinangor menuju Rancakalong. Ini adalah salah satu jalan alternatif menuju Subang. Jaraknya kurang lebih 40 kilometer. Awal perjalanan kami masih disuguhi pemandangan indah. Barisan bukit hijau, sungai-sungai jernih, kebun teh, kebun karet, dan tentu saja nanas Subang yang dijual di sepanjang jalan Subang. Nanas Subang memang sudah terkenal, ukurannya besar, berwarna oranye, plus “madu” seba...

Resensi Buku: NU dan Keindonesiaan

Gambar
Nahdlatul Ulama (NU), sebuah ormas Islam terbesar di Indonesia dan memiliki sejarah panjang bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri. Dengan jutaan jama’ahnya yang tersebar di pesantren, madrasah, dan masjid di seluruh Indonesia, sesungguhnya NU memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi pilar bagi kemajuan bangsa ini. Semangat Islam-Indonesia yang toleran, plural, dan universal bisa digunakan NU untuk merangkul segala lapisan masyarakat Indonesia, dari berbagai suku, berbagai agama. Muktamar ke-32 NU di Makassar menjadi momentum bagi NU untuk mewujudkan harapan jama’ah NU khususnya, dan rakyat Indonesia umumnya, bagi Indonesia yang lebih baik. NU harus menyadari dan memanfaatkan potensinya yang luar biasa tadi dalam menggerakkan roda perubahan. Yang dibutuhkan kini bukanlah sekadar permasalahan halal-haram, banyak persoalan krusial yang lebih perlu disikapi NU. Korupsi dan kebobrokan moral para elite, kerusakan lingkungan, kebodohan dan kemiskinan. Permasalahan Indonesia, permasalahan...

Resensi Buku "NU dan Keindonesiaan"

Nahdlatul Ulama (NU), sebuah ormas Islam terbesar di Indonesia dan memiliki sejarah panjang bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri. Dengan jutaan jama’ahnya yang tersebar di pesantren, madrasah, dan masjid di seluruh Indonesia, sesungguhnya NU memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi pilar bagi kemajuan bangsa ini. Semangat Islam-Indonesia yang toleran, plural, dan universal bisa digunakan NU untuk merangkul segala lapisan masyarakat Indonesia, dari berbagai suku, berbagai agama. Muktamar ke-32 NU di Makassar menjadi momentum bagi NU untuk mewujudkan harapan jama’ah NU khususnya, dan rakyat Indonesia umumnya, bagi Indonesia yang lebih baik. NU harus menyadari dan memanfaatkan potensinya yang luar biasa tadi dalam menggerakkan roda perubahan. Yang dibutuhkan kini bukanlah sekadar permasalahan halal-haram, banyak persoalan krusial yang lebih perlu disikapi NU. Korupsi dan kebobrokan moral para elite, kerusakan lingkungan, kebodohan dan kemiskinan. Permasalahan Indonesia, permasalaha...

Pembelajaran Sastra untuk Sekolah Menengah

“Wahh... kagak tau dah yang kayak begituan mahh...” Begitulah reaksi Fahmi (16), siswa kelas 1 SMA Pasundan Tanjungsari ketika ditanya soal karya-karya sastra Indonesia klasik seperti “Harimau Harimau’ Mochtar Lubis dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya HAMKA. Ketika ditanya mengenai apa yang pelajari soal karya sastra di sekolah, ia dan kawannya serempak menjawab “Ya paling kayak puisi dan cerpen begitu kan? Belajarnya paling itu aja di sekolah.” Pengetahuan remaja Indonesia saat ini mengenai karya-karya sastra, khususnya karya sastra Melayu klasik memang bisa dikatakan semakin minim. Mereka mungkin “pernah mendengar” istilah “angkatan 45” atau “Pujangga Baru”. Namun, mereka bisa jadi masih gelagapan ketika ditanya pendapat tentang karya H.B Jassin atau ketika diminta menceritakan kisah “Bumi Manusia” –nya Pramoedya Ananta Toer. Hal seperti ini biasanya terjadi karena siswa di Indonesia tidak mendapatkan pelajaran sastra yang memadai saat di sekolah. Di samping masih mendomplen...