Postingan

Resensi Buku: NU dan Keindonesiaan

Gambar
Nahdlatul Ulama (NU), sebuah ormas Islam terbesar di Indonesia dan memiliki sejarah panjang bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri. Dengan jutaan jama’ahnya yang tersebar di pesantren, madrasah, dan masjid di seluruh Indonesia, sesungguhnya NU memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi pilar bagi kemajuan bangsa ini. Semangat Islam-Indonesia yang toleran, plural, dan universal bisa digunakan NU untuk merangkul segala lapisan masyarakat Indonesia, dari berbagai suku, berbagai agama. Muktamar ke-32 NU di Makassar menjadi momentum bagi NU untuk mewujudkan harapan jama’ah NU khususnya, dan rakyat Indonesia umumnya, bagi Indonesia yang lebih baik. NU harus menyadari dan memanfaatkan potensinya yang luar biasa tadi dalam menggerakkan roda perubahan. Yang dibutuhkan kini bukanlah sekadar permasalahan halal-haram, banyak persoalan krusial yang lebih perlu disikapi NU. Korupsi dan kebobrokan moral para elite, kerusakan lingkungan, kebodohan dan kemiskinan. Permasalahan Indonesia, permasalahan...

Resensi Buku "NU dan Keindonesiaan"

Nahdlatul Ulama (NU), sebuah ormas Islam terbesar di Indonesia dan memiliki sejarah panjang bahkan jauh sebelum Republik ini berdiri. Dengan jutaan jama’ahnya yang tersebar di pesantren, madrasah, dan masjid di seluruh Indonesia, sesungguhnya NU memiliki kekuatan luar biasa untuk menjadi pilar bagi kemajuan bangsa ini. Semangat Islam-Indonesia yang toleran, plural, dan universal bisa digunakan NU untuk merangkul segala lapisan masyarakat Indonesia, dari berbagai suku, berbagai agama. Muktamar ke-32 NU di Makassar menjadi momentum bagi NU untuk mewujudkan harapan jama’ah NU khususnya, dan rakyat Indonesia umumnya, bagi Indonesia yang lebih baik. NU harus menyadari dan memanfaatkan potensinya yang luar biasa tadi dalam menggerakkan roda perubahan. Yang dibutuhkan kini bukanlah sekadar permasalahan halal-haram, banyak persoalan krusial yang lebih perlu disikapi NU. Korupsi dan kebobrokan moral para elite, kerusakan lingkungan, kebodohan dan kemiskinan. Permasalahan Indonesia, permasalaha...

Pembelajaran Sastra untuk Sekolah Menengah

“Wahh... kagak tau dah yang kayak begituan mahh...” Begitulah reaksi Fahmi (16), siswa kelas 1 SMA Pasundan Tanjungsari ketika ditanya soal karya-karya sastra Indonesia klasik seperti “Harimau Harimau’ Mochtar Lubis dan “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” karya HAMKA. Ketika ditanya mengenai apa yang pelajari soal karya sastra di sekolah, ia dan kawannya serempak menjawab “Ya paling kayak puisi dan cerpen begitu kan? Belajarnya paling itu aja di sekolah.” Pengetahuan remaja Indonesia saat ini mengenai karya-karya sastra, khususnya karya sastra Melayu klasik memang bisa dikatakan semakin minim. Mereka mungkin “pernah mendengar” istilah “angkatan 45” atau “Pujangga Baru”. Namun, mereka bisa jadi masih gelagapan ketika ditanya pendapat tentang karya H.B Jassin atau ketika diminta menceritakan kisah “Bumi Manusia” –nya Pramoedya Ananta Toer. Hal seperti ini biasanya terjadi karena siswa di Indonesia tidak mendapatkan pelajaran sastra yang memadai saat di sekolah. Di samping masih mendomplen...

Membuat Feature News

Fakta dalam jurnalisme adalah sesuatu yang suci. Ungkapan itu sudah seringkali kita dengar dalam dunia jurnalisme. Fakta yang disucikan dalam artian, fakta tidak boleh dicampurkan dengan opini wartawan. Earl English dan Clarence dalam buku Scholastic Journalism menegaskan, fakta merupakan persyaratan mutlak bagi berita. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan fakta? Earl English dan Clarence sendiri membagi fakta dalam dua pengertian. Pertama, fakta adalah sesuatu yang sungguh-sungguh telah terjadi. Kedua, fakta adalah sesuatu yang sungguh-sungguh benar, kebenaran. Hal-hal yang disiarkan wartawan tidak mesti berupa peristiwa, tapi dapat juga berupa suatu kecenderungan, situasi, atau interpretasi yang benar-benar dinyatakan oleh sumber berita. Mengenai sikap wartawan dan objektivitas, dalam penulisan laporan berita, baik primer maupun sekunder, wartawan harus menjaga jarak dengan objek laporan . Demi objektivitas berita pula, wartawan tidak boleh melibatkan diri secara emosional d...

Sebuah Jam Tua yang Memanfaatkan Energi Manusia

Gambar
Aku punya sebuah jam yang selalu aku pakai. Harus selalu aku pakai. Kalau nggak ku pakai, dia mati. Aku menyebutnya jam sehidup-semati. Karena dia akan tetap hidup selama aku hidup, kalau aku mati, nggak ada yang pakai, dia akan mati. Hehe... Jam ini sebetulnya punya Bapak, kami suka gantian pakenya. Aku merasa keren banget kalau pakai jam tangan ini, karena jam ini unik. Merk Citizen, automatic watch. Kenapa automatic watch? Karena jam ini tidak pakai batre seperti jam-jam lain pada umumnya. Jam ini mengandalkan energi kinetik si pemakai, hmm...kurang lebih seperti itu. Jadi begini kawan-kawan, kata Bapak saya di dalam jam tersebut itu ada bandul, yang menghasilkan energi buat si jam. Yang membuat bandul itu bergerak, tentu saja gerakan tangan dari si pemakai. Energi kinetik pemakai --> mekanik buat si jam. Dan bandul itu mungkin bisa disebut sebagai turbinnya. (Aku agak sotoy nih, dikoreksi yah kalau salah). Jadi jam ini harus dipakai terus supaya tetap hidup. Kalau nggak dipakai ...

Biar Gemuk yang Penting Cantik!

“Bajuku duluu tak beginiii... tapi kini tak cukup lagiii....” Dulu, kita mungkin menyanyikan lagu yang merupakan penggalan iklan vitamin anak-anak ini dengan penuh rasa bangga, bahwa kita tumbuh menjadi anak yang sehat, tinggi besar. Tapi kini, saya menyanyikan lagu itu dengan penuh kekesalan sambil meratapi timbunan lemak di pinggul, paha, lengan, perut... aaargh...!! Dulu waktu SD saya gemar sekali mengukur tinggi badan, menimbang berat badan, sambil berkata: “Ibu, aku sudah besar!” Tapi kini, saya begitu malas menimbang berat badan, karena pasti kesal dan berteriak “Oh no, I’m gaining!” Angkanya bertambah terus! Sampai-sampai saya pernah meletakkan timbangan di depan kulkas, supaya saya berpikir puluhan kali sebelum ngemil. Huh, saya terus menerus berpikir, apa yang salah? Rasanya pola makan saya sama saja seperti 5 tahun lalu, saat berat badan saya masih 43 kg. Ngemil pun masih sewajarnya. Kegiatan saya sekarang rasanya jauh lebih banyak menuntut tenaga dan pikiran. Bahkan sekarang...

Over Kapasitas di Lapas, Napi Alami Dehumanisasi

Pernahkah Anda membayangkan rasanya tinggal di dalam penjara yang over kapasitas hingga 200 persen? Sudah sial masuk penjara, penuh sesak pula. Sudah hilang kebebasan, hilang pula hak-haknya sebagai manusia untuk mendapatkan makanan, pakaian, tempat tinggal, apalagi pendidikan yang layak. Narapidana memang pelanggar hukum, tapi seringkali kita lupa, bahwa mereka juga manusia. Hal inilah yang dibahas oleh Hasanuddin Massaile, mantan Sekretaris Jenderal Departemen Hukum dan HAM dalam disertasinya yang berjudul “Pelayanan Kepada Narapidana Narkoba Dalam Penyelenggaraan Sistem Pemasyarakatan, Studi pada Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Jakarta”. Dalam karyanya ini Hasanuddin memusatkan penelitiannya terhadap permasalahan narapidana kasus penyalahgunaan narkoba, dengan penelitian di Lembaga Pemasyarakatan Narkotika Jakarta. Lembaga ini dipilih karena dapat merepresentasikan kebijakan pemasyarakatan khusus narapidana narkoba. Kasus penyalahgunaan narkoba di Indonesia yang semakin banyak dari...