Postingan

“The New Ruler of The World”

Sebelum membahas film ini, saya ingin sedikit bercerita. Saya tinggal di Kota Tangerang, sebuah kota yang selalu dibangga-banggakan sebagai salah satu pusat kegiatan industri terbesar di Indonesia. Saya mengalami sendiri bagaimana rasanya tinggal di kota industri ini. Setiap pukul 12 siang dan 4 sore, sejumlah ruas jalan selalu mengalami kemacetan, karena ribuan buruh keluar pabrik untuk beristirahat maupun pulang kerja. Saya mengenal beberapa orang buruh, bahkan terdapat sejumlah sanak famili saya yang bekerja menjadi buruh. Salah satunya ialah Endang Fatmawati (29), kakak sepupu saya asal Klaten, Jawa Tengah yang mengadu nasib di Jakarta sejak tahun 1997. Semasa SMA, saya mengenal sosok Mbak Endang –begitu saya memanggilnya- sebagai murid yang cerdas dan berprestasi di sekolahnya. Setahun kemudian, ia berangkat ke Jakarta dan menetap di rumah saya. Waktu itu, saya masih duduk di kelas 3 SD, sehingga memang masih banyak yang berusaha saya pahami. Setiap pagi, pagi-pagi sekali, saya te...

Monumen Perjuangan dan Prasasti yang Terlupakan

Gambar
Ruangan tampak gelap. Hanya ada cahaya dari sorot beberapa lampu yang tersisa di langit-langit ruangan. Lainnya tinggal kabel saja, menjulur ke luar, berantakan. Di sebelah kanan ruangan, berderet sejumlah kotak kaca yang berisi replika peristiwa-peristiwa bersejarah di Jawa Barat. Ada replika peristiwa Bandung Lautan Api, perundingan Linggarjati, pembuatan Jalan Raya Pos yang menampilkan Pangeran Kornel dari Sumedang yang menolak bersalaman dengan Daendels, dan sejumlah peristiwa bersejarah lainnya. Segerombol anak laki-laki berpakaian seragam merah-putih masuk ke dalam ruangan sambil berlarian. Mereka langsung menyerbu melihat kotak-kotak kaca. “Wuih, kepalanya buntung!” seru Fikri (10), seorang siswa kelas 5 SD Haur Pacung Bandung sambil menunjuk-nunjuk ke dalam sebuah kotak kaca. Tiga orang temannya pun segera menghampiri. Mereka asyik mengamati replika peristiwa perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa terhadap penjajah Belanda. Di situ memang ada boneka serdadu Belanda yang putus kepala...

Kutipan Percakapan dengan Prof. Said Hamid Hasan

Di tengah kejenuhan saya dengan kuliah, tiba-tiba saya teringat percakapan saya dengan salah seorang pakar pendidikan dari UPI, Prof. Dr. Said Hamid Hasan, hampir setahun lalu. Beliau mengatakan, "Pendidikan kita hanya memikirkan ini (menunjuk kepala), tapi tidak aspek manusianya." "Maksudnya?" "Apa yang ada dalam pikiran Anda saat kuliah? Belajar, belajar, dan belajar ‘kan? Karena beban studi Anda banyak sekali dalam satu semester. Mata kuliah pilihan Anda bagaimana? Organi-sasi kemahasiswaan Anda bagaimana? Kegemaran Anda bagaimana? Adakah waktu untuk itu? Anda senang misalnya ikut kelompok diskusi. Seperti saya dulu mengikuti kelompok arkeologi mesin. Kita berbagi pengalaman di sana, sesuai kesukaan saya. Karena sebagai manusia, saya ulangi lagi, sebagai manusia, mahasiswa memang harus belajar, tapi ia juga punya kebutuhan lain. Seharusnya begitulah kampus, bisa mengembangkan potensi diri Anda sebagai manusia. Sehingga mahasiswa-mahasiswa yang dihasilkan pun...

Wartawan Profesional

Wartawan makin banyak. Namun yang manakah yang benar-benar profesional? Menurut Alex Sobur dalam Etika Pers, Profesionalisme dengan Nurani (2001:83), ada lima hal yang tercakup dalam profesionalisme: 1. Profesional menggunakan organisasi atau kelompok profesional sebagai kelompok referensi utama 2. Profesional melayani masyarakat dengan baik, mengutamakan kepentingan umum 3. Profesional memiliki kepedulian atau rasa terpanggil dalam bidangnya 4. Profesional memiliki rasa otonomi. 5. Profesional mengatur dirinya sendiri (self regulation) Ashadi Siregar dalam bukunya “Bagaimana Meliput dan Menulis Berita untuk Media Massa” memaparkan sejumlah karakteristik wartawan profesional: 1. Persiapan sebelum ke lapangan Wartawan yang profesional selalu mempersiapkan diri sebaik-baiknya agar dapat membaca situasi dimana dia berada dan bekerja. 2. Menjalin hubungan baik Wartawan profesional akan selalu menjaga hubungan baik dengan para sumber berita dan berbagai pihak yang dalam kehidupan sehari-har...

Pentingnya EYD dalam Bahasa Jurnalistik

Kita membutuhkan media massa untuk memenuhi kebutuhan kita akan informasi. Setiap hari kita membaca surat kabar, majalah, dan menonton siaran berita di televisi dan radio untuk memahami apa yang terjadi dengan lingkungan kita. Artinya, setiap hari kita berhadapan dengan penggunaan bahasa jurnalistik, yang hingga kini masih bisa kita. Tapi tak banyak khalayak yang menyadari bahwa bahasa jurnalistik penting bagi pembaca. Kebanyakan khalayak hanya tahu membaca, membaca, dan membaca. Setelah itu, ya entah bagaimana nasib surat kabar tersebut. Ada yang berakhir di tumpukan koran, ada yang disimpan untuk dikoleksi sebagai sejarah, ada juga yang menjadi bungkus cabai di tukang sayur. Seorang jurnalis harus memiliki kemampuan menulis yang luar biasa, yang bisa membius, bahkan memanjakan keingintahuan dan imajinasi pembaca. Tentu saja, bagaimana kita bisa betah membaca surat kabar yang berisi sekian banyak halaman, sekian ratus berita setiap harinya, jika kata-kata yang digunakan cenderung “aca...

Membangun Indonesia dengan Kemerdekaan Pers

Indonesia adalah salah satu negara yang terbilang unik, di mana konsep kebangsaannya dibangun di atas tradisi cetak, alias dunia pers dan surat kabar. Hal ini dapat dilihat dari sebagian besar founding fathers kita adalah para penulis handal. Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Rasuna Said, Dr. Soetomo, dan tokoh bangsa lain, juga menjadi pemimpin surat kabar. Surat kabar dan pers ini digunakan untuk menyampaikan ide-ide mereka tentang kemerdekaan dan pembelaan terhadap rakyat yang ditindas pemerintahan kolonial. Sejak dulu, efektivitas pers sebagai alat propaganda memang sudah tidak diragukan lagi. Tentu kita tahu propaganda yang dilakukan PKI (Partai Komunis Indonesia) lewat salah satu majalahnya, Lekra yang laku keras saat itu. Tapi tentu saja bukan hanya PKI yang punya media. Salah satunya adalah “Soenda Berita”, sebuah surat kabar yang didirikan, dibiayai, dipertahankan oleh seorang pribumi, Tirtoadhisoerjo. Kemudian banyak bermunculan ide pergerakan kebangsaan yang disalurkan melalui t...

Si Mbah

Gambar
Nenek saya namanya Siti Hamidah. Semua orang memanggilnya dengan sebutan Mbah. Mbah itu satu-satunya grandparent saya, karena mbah-mbah yang lain udah pada meninggal. Bahkan saya tidak terlalu mengenal mbah-mbah yang lain (bapaknya Bapak dan kedua orang tuanya Ibu), sebab mereka meninggal saat saya masih sangat kecil. Nggak heran kalau saya sayaaaang banget sama Mbah Midah ini ^.^ Mbah saya ini orang Madura asli. Kata Bapak, Mbah keturunannya Raja Madura dulu. Makanya kulit Mbah putih, nggak kayak orang Madura lain yang cenderung gelap. Mbah saya juga tingkah lakunya kayak ningrat banget, rapi, jalannya anggun, kalo makan pake table manner, ya tipe-tipe perempuan Jawa rumahan. Tapi kalo soal gaya ngomong sih, sama aja kayak orang Madura umumnya, blak-blakan, rada galak, tapi lucu, hehehe. Mbah saya nih gaul dah orangnya, nggak kolot gitu. Suka bercanda sama cucu-cucunya. Walaupun umurnya udah lebih dari 80 tahun, alhamdulillah sampe sekarang Mbah masih sehat. Nggak ada penyakit serius....