Postingan

Tidak Jadi Apa-Apa

Gambar
"Mama, dulu cita-citanya jadi apa?" / Jadi wartawan, kenapa? / "Kenapa sekarang Mama nggak jadi apa-apa?" Aku tertawa tapi sebenarnya getir juga. Mama bisa jadi editor kalau nggak resign demi Ali, Nak. *** Dua kali aku merelakan karierku untuk nurut permintaan orangtua. Pertama, dulu saat sambil kuliah aku sudah kerja sebagai wartawan di Bisnis Indonesia Bandung . Tapi kemudian ibu memintaku berhenti dan fokus menyelesaikan skripsi. Lalu 5 tahun kemudian, setelah aku menikah, hamil, lalu Ali lahir, bapakku berkata, "Sekarang sudah punya anak, maka anak ini tanggung jawabmu, bukan tanggung jawab Bapak-Ibu. Mau ambil pembantu-kah, mau ditaro di day-care kah, atau kamu berhenti kerja, terserah. Pokoknya jangan dikasih ke Bapak-Ibu, Urus anakmu sendiri." Yoi, setegas dan setega itu Bapakku. Tapi bener.  Pada saat itu, kami masih tinggal di Jakarta, dan untuk mencari pengasuh bayi maupun mencari day-care yang mau mengasuh bayi usia 3 bulanan tidaklah mudah. ...

Tahun Ketujuh Pernikahan: Belajar Mencintai

Gambar
Tahun ini, pernikahan kami memasuki tahun ketujuh. Waktu berlalu begitu cepat, apalagi dengan adanya anak-anak. Perhatian kami sepenuhnya tertuju pada mereka, sehingga tak jarang lupa merawat cinta kami berdua. Dalam beberapa tahun terakhir, peran kami berubah dari pasangan menjadi orangtua, dari kekasih menjadi Ayah-Mama. Aku ingin kami selalu mengingat dan menemukan alasan untuk saling mencintai satu sama lain, bukan relasi yang tercipta sekadar akibat peran dan tugas bersama sebagai orang tua.   Ada orang yang menikah karena membayangkan pasangannya itu dapat menjadi ayah atau ibu yang baik bagi anak-anaknya. Memang salah satu tujuan menikah adalah memiliki keturunan. Tetapi suamiku menikahiku bukan karena itu. Sekarang sedang ramai ya, bahasan soal keputusan untuk tidak memiliki anak. Perbincangan seperti itu juga ada di masa awal pernikahanku. Dia memutuskan menikah ya karena ingin hidup denganku, tidak usah punya anak juga tidak apa-apa. Aku butuh waktu beberapa bulan un...

Mimpi Masa Kecil

Gambar
Suatu hari, di perhentian lampu merah, ada anak-anak kecil mengamen, ibu menggendong bayi yang lusuh mengemis, di bawah terik matahari dan polusi. Pemandangan yang jamak di mana-mana. Tetapi Ali keheranan. Dia bertanya, kenapa mobil-mobil tidak pada kasih uang? Kenapa tidak kita kasih uang kita untuk mereka semuanya? Kita kan masih punya uang lain di ATM? Pikiran Ali tentu saja sangat sederhana. Tetapi bisakah kamu membantuku menjawabnya dengan sederhana juga? Aku ingat, aku juga pernah punya pikiran seperti itu saat duluuuuu sekali aku pertama kalinya naik mobil ke Jakarta melewati jembatan Tomang. Aku ingat betul gambaran besarnya Mall Taman Anggrek di sebelah kiriku, dengan lima susun jembatan yang bagiku saat itu, sangat megah. Di kanan kiriku berbaris mobil yang terjebak kemacetan, tetapi anak-anak gelandangan mencoba berbagai cara untuk mengais receh. Ada yang mengamen, mengelap jendela, atau sekadar meminta-minta. Mereka kumal, kotor, tidak beralas kaki, beda jauh sekali den...

Lika Liku Kulitku

Sejak remaja, aku mengalami berbagai masalah kulit wajah. Jerawat langganan banget, terutama jelang haid tuh pasti mentul-mentul di pipi. Flek hitam bekasnya susah hilang. Kurangnya pengetahuan dan tangan yang gemes menjadikan jerawatku berbekas dan meninggalkan luka parut. Kulitku acne prone, kusam karena berminyak, komedo, dan bekas jerawat silih berganti, aku tak pernah percaya diri bercermin.  Ada lho, masa di mana aku menggunakan make up untuk menutupi kondisi kulitku. Concealer , bahkan foundation dengan coverage mumpuni aku gunakan hampir setiap hari. Ini semasa aku meninggalkan Jatinangor untuk magang di Jakarta. Tetapi, karena kondisi kulitku yang buruk, make up pun tidak tahan lama, istilahnya "blentang-blentong". Kebayang, siang-siang terik berpolusi di Jakarta, aku berkeringat dan kulitku berminyak. Setiap kali wudhu, setiap kali bercermin, aku merasa harus sering-sering touch up. Itu sangat-sangat membuang waktu. Sebenarnya aku ini anak yang tomboy dan anti...

Menyapih Aidan

Menyusui menjadi momen membangun ikatan antara ibu dan anak. Tidak semudah kelihatannya, menyusui juga punya banyak tantangan. Puting lecet, payudara bengkak, kalau soal bentuk udah jangan ditanya. Semakin besar si anak bisa menyusu dengan berbagai gaya. Ngeri-ngeri sedap.      Aku menyusui Ali sampai usianya 30 bulan. Ya, molor banget memang. Proses nyapihnya maju mundur. Bahkan dia sudah lebih dulu lulus toilet training dan bisa naik sepeda roda dua sebelum berhasil disapih. Semata karena aku nggak tega, dan semakin besar, semakin susah dibilangin, semakin berat digendong. Sehingga seringnya aku mengambil jalan mudah: susui lagi. Gitu aja terus, walaupun sounding -nya udah dari lama, tapi nggak berhasil-berhasil karena aku nggak tega. Atau capek.      Setelah akhirnya bisa disapih, aku langsung ngetawain diri sendiri dan bilang, “Kenapa gak dari dulu aja?” Haha. Ya karena ternyata enak banget udah disapih tuh. Bisa tidur sendiri tanpa dikelonin. Kit...

Problema Tahun Kelima

Romantisisme menggambarkan pernikahan sebagai akhir dari kisah indah “…and they lived happily ever after…” seolah pergulatan dan segala nestapa berhenti di sana. Padahal, realitanya pernikahan adalah awal dari sebuah perjalanan baru yang tentu saja akan penuh liku. “Hell is other people”  - Jean Paul Sartre - Teringat masa-masa paling indah saat menjadi anak kosan, hidup di dalam satu kamar punya sendirian, mau naro baju di mana, bangun jam berapa, di kamar mandi berapa lama, seharian nonton pilem aja ga ngapa-ngapain juga terserah. Bebash.  Setelah menikah, ada orang lain yang masuk dalam kehidupanmu. Mengubah prioritasmu. Membuatmu tidak punya waktu untuk dirimu sendiri. Suami, anak satu, anak dua. Mereka semua hadir dan memaksamu bertumbuh, mau tidak mau, siap tidak siap. Is it a good thing? YES ! But it is never easy.  Alih-alih romantisisme “…happily ever after… just the two of us…” yang lebih relevan adalah kata-katanya Patkai: “Begitulah Cinta… deritanya tiada akh...

Mengapa Perempuan Suka Saling Menyakiti dengan Lisannya?

Sebenarnya ini sebuah cerita yg memalukan, membuatku malu bahkan untuk bercerita ke suamiku. Membuatku malu terhadap tubuhku. Sudah berlalu beberapa lama tapi masih teringat menyakitkan. Di sini, aku memutuskan menyembuhkan diri dengan cara lama, menulis. Aku biasanya sembuh dengan berbagi kisah sekaligus merefleksikan diri.  Beberapa waktu lalu, tetangga dekatku hajatan. Semua ibu RT jadi panitia, pakai baju seragam. Tapi karena aku punya bayi, jadi si empunya hajat memaklumiku dan tidak melibatkan aku dalam kepanitiaan. Aku menghormati beliau dengan berusaha datang ke akad nikah pagi-pagi, walau hanya bertiga dengan anak-anak. Bapak ibu, adik, dan suamiku tak ada di rumah. Tidak mudah bagiku untuk bersolek, bahkan pakai baju pun digelendotin. Udah rapih pun masih harus nyebokin. Aku memakai gamis, kerudung simpel, dan high heels, lalu menggendong Aidan dan menuntun Ali ke tempat acara. Ibu-ibu panitia memintaku untuk memfoto mereka beberapa kali. Aku melakukannya sambil menggendo...